Puluhan Warga Asal Palembang Terlantar Di Kamboja, Diduga Korban Perekrutan Kerja Ilegal

Monday, 9 February 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasional | Newsline.id-Puluhan warga negara Indonesia (WNI) asal Palembang, Sumatera Selatan, dilaporkan terlantar di wilayah Khan Sensok, Phnom Penh, Kamboja, setelah diduga menjadi korban perekrutan tenaga kerja ilegal. Para WNI tersebut kini mengungsi di sebuah rumah penampungan sederhana demi menyelamatkan diri dari ancaman pihak yang sebelumnya mempekerjakan mereka.

Salah satu korban bernama David mengungkapkan, keberangkatan mereka ke Kamboja terjadi pada 8 Maret 2025. Awalnya, ia bersama teman-temannya ditawari pekerjaan ke luar negeri oleh seseorang yang mengaku perwakilan perusahaan. Tawaran tersebut tidak disertai kejelasan perusahaan, kontrak kerja resmi, maupun kantor PT yang sah.

“Teman saya mengajak ikut kerja ke luar negeri, tapi tidak transparan. Kami tetap berangkat karena dijanjikan pekerjaan yang layak,” ujar David.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setibanya di Kamboja, puluhan WNI tersebut mulai bekerja dengan kontrak selama satu tahun. Namun, setelah berjalan sekitar lima bulan, kondisi kerja berubah drastis. Para pekerja dipaksa bekerja dengan jam kerja ekstrem, bahkan mencapai 24 jam dalam sehari,

 

tanpa perlindungan dan hak yang layak.
Masalah semakin parah ketika pihak bos dan penanggung jawab hendak memindahkan mereka ke lokasi lain, padahal kontrak kerja belum berakhir.

 

Saat para pekerja menanyakan gaji yang belum dibayarkan selama tiga bulan, mereka justru mendapat tekanan dan ancaman. Karena menolak dipindahkan, para WNI tersebut akhirnya memilih melarikan diri dan mencari tempat penampungan yang lebih aman.

“Paspor kami diancam akan dibakar. Kami takut dan langsung kabur menyelamatkan diri,” ungkap salah satu korban.

Dalam kondisi terdesak, sebagian korban telah melaporkan kejadian tersebut ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat. Namun hingga kini, menurut para korban, belum ada kepastian hasil penanganan. Mereka diminta melengkapi berbagai persyaratan administrasi dan data diri,

 

namun proses tersebut telah berjalan berminggu-minggu tanpa kejelasan.
Para WNI tersebut berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Presiden RI, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Ketenagakerjaan, Imigrasi dan HAM, serta aparat kepolisian untuk segera memberikan perlindungan dan pemulangan ke Tanah Air.

“Kami meninggalkan keluarga demi bekerja. Kami hanya ingin pulang ke Indonesia dengan selamat dan kembali berkumpul bersama keluarga,” pungkas David penuh harap. (**)

Berita Terkait

Dugaan Sengketa Lahan Warga Mekarsari
Jabatan Kapolres Disebut Kapolda Kesempatan Emas
Perkuat Kepercayaan Muzakki Melalui Tata Kelola Transparan
Sidang Tahunan MPR RI Jadi Momentum Indonesia Emas
Jembatan Merah Putih Hadiah Kemerdekaan Polda Sumsel Untuk Rakyat
Hari Bhayangkara Polda Sumsel Raih Tiga Penghargaan Nasional
Pelaku Pencurian Motor Tewas Hantam Tiang Listrik
Menko Polkam Tekankan Respons Cepat Atasi Karhutla

Berita Terkait

Friday, 21 August 2026 - 10:48

Dugaan Sengketa Lahan Warga Mekarsari

Saturday, 15 August 2026 - 19:37

Jabatan Kapolres Disebut Kapolda Kesempatan Emas

Saturday, 15 August 2026 - 18:21

Perkuat Kepercayaan Muzakki Melalui Tata Kelola Transparan

Saturday, 15 August 2026 - 13:26

Sidang Tahunan MPR RI Jadi Momentum Indonesia Emas

Friday, 14 August 2026 - 11:05

Jembatan Merah Putih Hadiah Kemerdekaan Polda Sumsel Untuk Rakyat

Berita Terbaru

Kabupaten Muaraenim

Warga Air Limau Minta Prioritas Kerja Lokal

Friday, 11 Sep 2026 - 20:35

Prabumulih

Satukan Literasi Dan Kreativitas

Monday, 31 Aug 2026 - 17:46

Prabumulih

Gerindra Sumsel Gelar Pelatihan Paralegal Dan Politik

Sunday, 30 Aug 2026 - 14:03

Prabumulih

Ajak Masyarakat Jaga Kebugaran

Saturday, 29 Aug 2026 - 15:19