Lahat,newsline.id-Pembangunan siring tersier sawah di Desa Tanjung Baru, Kecamatan Tanjung Tebat, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan Tahun Anggaran 2025, diduga dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.
Proyek yang berlokasi di Dusun I dan Dusun dua Desa Tanjung Baru ini menuai sorotan warga setempat. Pasalnya, berdasarkan pantauan di lapangan, material yang digunakan terindikasi tidak memenuhi standar pekerjaan konstruksi.
Diketahui, pasir yang digunakan bercampur batu dan tanah kotor (sirtu), sementara memakai besi berukuran kecil besi 6 mm untuk besi U dan besi 8 mm untuk tulangan memanjang. Selain itu, jarak antara besi diduga tidak sesuai spesifikasi, mencapai sekitar 50 cm. Parahnya lagi, pengecoran disebut diisi dengan batu besar yang lazimnya hanya digunakan untuk pondasi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak hanya itu, dari titik nol hingga tahap pengerjaan, tidak ditemukan papan informasi proyek di lokasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan masyarakat terkait sumber anggaran dan instansi pelaksana kegiatan tersebut.
Seorang warga Desa Tanjung Baru bernama Hanzo, saat ditemui awak media pada 11 Oktober 2025, menyampaikan bahwa masyarakat tidak mengetahui asal proyek tersebut.
“Bangunan di desa kami ada dua, di Dusun 1 dan Dusun 2. Kami tidak tahu dari dinas mana, karena tidak ada papan informasi. Pekerjaannya asal-asalan, pembesian hanya pakai besi enam dan delapan. Sebagian corannya dimasukkan batu, dan pengadukan hanya pakai tenaga manusia, bukan mesin molen. Pasirnya pun bercampur batu dan tanah kotor,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan Usdi warga setempat lainnya. Ia menilai kualitas bangunan tidak sesuai harapan dan khawatir akan cepat rusak.
“Kami hanya ingin bangunan siring ini bagus, karena untuk sawah kami. Tapi kenapa dikerjakan seperti asal-asalan? Besinya kecil-kecil, pakai besi enam dan delapan. Biasanya besi enam itu cuma untuk cincin, bukan tulangan utama. Corannya diisi batu besar, dan pasirnya pun kotor. Dari awal pekerjaan tidak ada papan kegiatan, jadi kami tidak tahu dananya dari mana,” ungkapnya.
Proyek pembangunan siring tersier idealnya melalui tahapan yang jelas mulai dari pembersihan lahan, pemasangan tulangan sesuai ukuran dan jarak spesifikasi, pengecoran beton bertulang yang padat, hingga perawatan pascapengecoran
Namun, berdasarkan temuan warga, beberapa tahapan tersebut diduga tidak dilakukan sesuai standar konstruksi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak dinas terkait Pemerintah Kabupaten Lahat belum dapat dikonfirmasi mengenai pelaksanaan proyek tersebut.
Kasus ini diharapkan dapat segera mendapat perhatian serius dari pihak berwenang agar pembangunan infrastruktur pertanian benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan tidak menjadi ajang penyimpangan anggaran.
{Sardin}










