Kalimantan Tengah,newsline.id-Kelangkaan LPG 3 kilogram di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dikeluhkan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dalam sepekan terakhir, tabung gas subsidi yang dikenal sebagai “gas melon” itu sulit ditemukan di sejumlah pangkalan.
Kondisi ini memicu keresahan, terutama di kalangan pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada LPG 3 kg sebagai bahan bakar utama produksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Langkanya LPG 3 kg ini sudah seminggu terakhir. Tapi pemerintah, khususnya Pemkab Kotim, terkesan diam,” ujar Bambang, salah satu pelaku UMKM di Sampit, Jumat (27/2/2026).

Bambang yang bergerak di sektor makanan ringan mengaku biaya produksinya meningkat karena terpaksa membeli gas di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Akibatnya, margin keuntungan yang sebelumnya sudah tipis kini semakin tergerus.
Keluhan serupa disampaikan Udin, pedagang pentol keliling. Ia mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain demi mendapatkan satu tabung LPG 3 kg.
“Kalaupun ada, harganya mahal sekali. Mencekik kami orang kecil. Kalau begini terus, bisa-bisa Lebaran nanti kami tak bisa mudik,” ujarnya prihatin.

Menjelang Ramadan dan IdulFitri, momentum yang biasanya mendongkrak omzet pelaku UMKM, kelangkaan gas justru menjadi pukulan berat. Permintaan makanan meningkat, namun ketersediaan bahan bakar tidak seimbang.
Sejumlah warga juga menyoroti distribusi LPG yang dinilai tidak transparan. Mereka mempertanyakan ke mana alokasi gas subsidi untuk masyarakat kurang mampu dan UMKM, jika di tingkat pangkalan kerap kosong, sementara di pengecer harga melambung tinggi.
“Modal sudah tipis, biaya gas malah selangit. Ini bukan lagi membantu rakyat, ini memberatkan,” kata Toha, tokoh masyarakat setempat.
Selain persoalan distribusi, warga juga menyinggung belum adanya kejelasan hasil penyelidikan terkait dugaan permasalahan nozze pengisian di SPBE Sampit beberapa waktu lalu. Mereka berharap ada keterbukaan informasi agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur segera mengambil langkah konkret, seperti menggelar operasi pasar dan memperketat pengawasan distribusi. Aparat penegak hukum juga diminta menindak tegas jika ditemukan praktik penimbunan atau permainan harga oleh oknum pangkalan maupun pengecer.
“Kami hanya ingin gas tersedia sesuai aturan dan harga resmi. Jangan sampai dapur-dapur UMKM berhenti mengepul,” tegas salah seorang pelaku usaha.Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait
mengenai penyebab pasti kelangkaan LPG 3 kg di Sampit. Warga berharap pemerintah segera hadir memberikan solusi nyata agar roda ekonomi kecil tetap berputar.
( Saifullah Hakim )









